Sabtu, 19 Maret 2011

Paper presented in a Stadium Generale at FKIP Universitas Sriwijaya in 2006 and will be publishe by Nasir Lubay

AKTUALISASI LITERASI KALANGAN INTELEKTUAL DALAM MEREPRODUKSI ILMU

Oleh

Rita Inderawati Rudy
JPBS FKIP Universitas Sriwijaya




Sepenggal metafora dari Prof. Dr. Yus Rusyana:

Karya tulis adalah bendera yang dikibarkan penulisnya. Kemanapun ia pergi, maka masyarakat akan mengenalnya lewat bendera itu.”


PENDAHULUAN

Our intellectuals lack of writing skills,” merupakan judul sebuah artikel dalam sebuah media cetak berbahasa Inggris di Indonesia. Makna yang tersirat dalam judul artikel tersebut mengindikasikan tumpulnya kreativitas literasi kalangan intelektual (Alwasilah, 1998). Kaum intelektual adalah kaum terpelajar dengan latar belakang pendidikan beragam. Keragaman pendidikan tersebut sepatutnya menumbuhkan kreativitas literasi yang dapat diinformasikan kepada publik. Mengomunikasikan ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalam memori sebagai pengetahuan latar (background knowledge) relevan dengan bidang keahliannya, termasuk bentuk kontribusi positif dari kaum intelektual.
Tumpulnya kreativitas kemampuan baca-tulis kalangan intelektual berdasarkan studi longitudinal yang dilakukan Alwasilah (1999) terhadap 100 mahasiswa tingkat pertama yang membuahkan sederetan simpulan tentang aktivitas menulis, tampaknya menjadi kendala dengan tingkat keseriusan yang tinggi. Simpulan yang dikedepankan oleh penulis yang pernah meraih penghargaan The Indiana University School of Education’s 1990-1991/Proffitt Dissertation Award for Outstanding Achievement berkat karya disertasinya yang terpilih menjadi disertasi terbaik di Indiana University,  Bloomington,  Indiana, A.S.  adalah  sebagai  berikut:          (1)  menulis   merupakan   mata   pelajaran   yang  paling diabaikan,   baik di sekolah maupun di Perguruan Tinggi (PT); (2) menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit dikuasai para siswa dan yang paling sulit diajarkan oleh para guru; (3) siswa SMU dan mahasiswa selama ini diajari menulis oleh guru atau dosen yang tidak berpengalaman; (4) pelajaran menulis lebih merupakan palajaran tata bahasa dan teori-teori menulis dengan sedikit latihan menulis; (5) pada umumnya karangan siswa dan mahasiswa tidak dikembalikan kepada mereka; dan (6) satu-satunya cara mengajar menulis adalah lewat latihan menulis. Simpulan yang memotret kendala pengajaran menulis tersebut perlu dicermati secara serius untuk meminimalkan penumpulan kreativitas menulis generasi penerus bangsa; kreativitas terimplisit di dalamnya.
            Sejalan dengan tumpulnya kreativitas literasi tersebut, kaum intelektual dihadapkan pada realita yang membawanya menjelajahi dunia intelektual, memikul tanggung jawab dengan bekal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang kurang memadai. Tidak hanya itu, penguasaan “ala kadarnya” tentang iptek belum dikemas dengan penguasaan iman dan taqwa (imtaq). Tampaknya, pemahaman dan penguasaan iptek dan imtaq baru terbatas pada tataran slogan, belum merambah pada wilayah implikasi dan aplikasi.
Selanjutnya perlu kita sepakati sedini mungkin bahwa pemahaman dan penguasaan iptek dan imtaq, selayaknya menjadi santapan bagi bangsa Indonesia seutuhnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa aspek-aspek yang terkandung di dalam iptek, apalagi dalam kancah persaingan global, semakin memojokkan posisi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Indonesia semakin jauh tertinggal dari negara-negara maju yang secara sengaja menciptakan kesenjangan yang dampaknya sangat dirasakan dalam kehidupan. Sementara itu, peran imtaq dalam rangka mewujudkan penguasaan iptek belum membumi dan menyentuh, bahkan tampaknya semakin lama semakin pudar gaungnya.
Berdasarkan deskripsi di atas, tulisan ini menyoroti iptek dan imtaq dalam kehidupan bangsa Indonesia, khususnya dalam menghadapi era globalisasi, terutama dalam mengaktualisasikan budaya baca tulis. Pada skala mikro, kedua komponen wawasan dalam paparan ini secara spesifik diperuntukkan bagi kaum intelektual. Dalam kaitannya dengan rendahnya mutu literasi kalangan intelektual Indonesia, perlu ditemukan solusi yang mampu mengatasi dua permasalahan pokok yang disorot dalam tulisan ini, yaitu (1) bagaimana membangun  kaum intelektual yang berwawasan iptek dan imtaq, dan (2) bagaimana mengaktualisasikan literasi di kalangan   intelektual  yang  berwawasan  Iptek  dan  imtaq terpadu. Kedua masalah utama tersebut akan dideskripsi baik secara diskrit maupun integratif dalam beberapa bahasan.

RASIONAL


Pengenalan iptek seyogyanya telah dilakukan sejak usia dini untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkarakteristik, memiliki daya saing yang tinggi dalam era percaturan global. Terlambatkah intelektual muda untuk memiliki wawasan apalagi menguasai iptek? Never say late! Jangan pernah mengatakan terlambat pada hal-hal yang berkontribusi positif bagi sosok pribadi untuk mampu tampil mandiri. Belajar dan terus belajar. Learning through process. Learning by doing, John Dewey melisankan frase yang sudah sangat akrab ini untuk menyemangati para later innovative acceptor. Demikian halnya dengan imtaq, komponen yang eksistensinya masih berada dalam tataran wacana ini perlu diselaraskan dengan iptek. Namun demikian, banyak pakar dengan bidang keahlian beragam mengultimatumkan bahwa iptek adalah media untuk meraih kehidupan yang lebih baik, hanya orang yang berwawasan iptek mampu merengkuh dunia ini. Selamat meneguk madu kehidupan duniawi. Cukupkah orang  mengandalkan hidupnya pada aspek iptek belaka? Masih kurangkah “tauladan” yang  dipamerkan   para   ilmuwan,  teknokrat,  birokrat kita dengan tingginya wawasan iptek yang dimilikinya? Bangsa ini akan hancur bila demikian.
Untuk menghindari ledakan ini, tampillah imtaq sebagai panasea yang ampuh. Imtaq menjadi pengendali bom waktu yang siap meledak atau sengaja diledakkan untuk menenggelamkan bangsa ini.

MEMBANGUN KALANGAN INTELEKTUAL YANG BERWAWASAN

IPTEK DAN IMTAQ

Revolusi Industri (RI) terlahir dari iptek. Lahirnya RI menyebabkan perubahan radikal dalam usaha mencapai produksi dengan menggunakan mesin (Thornley dan Roberts, 1984). Pemberhalaan pada iptek mengakibatkan bangsa Barat menjadi budaknya karena mereka tidak mengendalikannya. Arogansi teknologi telah menciptakan kolonialisme dan imperialisme. Sementara itu, di dunia Timur, Jepang pun menjadi budak teknologinya dalam perang dunia II. Keserakahan menjadikannya bangsa yang bengis dan berakhir dengan kekalahan. Kekalahan tersebut menumbuhkan rasa mawas diri bahwa pemujaan pada iptek membawa petaka bagi penciptanya sendiri.
Pasca perang, Jepang merubah kebijakan pendidikan yang menghantarnya setaraf dengan negara-negara sekutu yang pernah mengalahkannya. Bahkan dalam beberapa hal, Jepang mengungguli mereka. Amerika, misalnya, menyepakati untuk saling mempelajari sistem pendidikan nasional untuk memperbaiki mutu pendidikan di negara masing-masing. Secara resmi, Amerika mendokumentasikan hasil studi pendidikan Jepang dalam A Report from the U.S Study of Education in Japan (1987) dengan menyebutkan keunggulan-keunggulan pendidikan di Jepang sebagai berikut :

1)         Masyarakat Jepang adalah bangsa yang berorientasi pendidikan (education minded) memiliki keyakinan bahwa sukses dalam pendidikan formal sama dengan sukses dalam kehidupan.
2)         Keberhasilan pendidikan sebagai akibat dari usaha orang tua, siswa, dan guru.
3)         Siswa mendapat pelajaran membaca, menulis, berhitung, sains, musik, dan seni yang bermutu tinggi dan berproporsi seimbang dalam kurikulum.
4)         Pendidikan Jepang dicirikan oleh pemberian motivasi yang tinggi kepada siswa yang berhasil.
Sejalan dengan deskripsi mengenai lahirnya iptek dan kebijakan pendidikan di Jepang, Indonesia dihadapkan pada informasi-informasi baru pada skala global yang mengarah pada pembentukan sebuah budaya global. Ini berarti bahwa siap tidak siap kita harus membuka diri bagi perkembangan iptek. Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa iptek  sangat dibutuhkan dalam membangun sumber  daya  menusia (SDM) yang unggul yang mampu menghantar mereka meraih kehidupan yang sukses di dunia ini.
Meskipun demikian, SDM (kaum intelektual) belum tergolong sukses bila hanya berwawasan iptek. UUSPN pasal 4 tahun 1989 menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian    yang    matang      dan    mandiri   serta   rasa   tanggung   jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Ada makna lain yang tersirat di dalam pernyataan ini selain orientasi iptek, yakni mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yang berwawasan imtaq.



LITERASI DAN REPRODUKSI ILMU

Tahun 2004 The Times Higher Education Supplement memilih 200 universitas terhebat di dunia. Sepuluh terhebat tersebut adalah Harvard University, University of California Berkeley, Massachusetts Institute of Technology, California Institute of Technology, Oxford University, Cambridge University, Stanford University, Yale University, Princeton University, dan ETH Zurich Swiss (Alwasilah, 2005). Yang mengagumkan adalah masuknya empat universitas tetangga terdekat kita, yaitu National University of Singapore (ke-18), Nanyang University (ke-50), Malaya University (ke-89) dan Sains Malaya University (ke-111). Urutan ditentukan oleh    skor yang   diperoleh  dalam  lima  hal,  yaitu  penilaian oleh sejawat, jumlah dosen asing, jumlah mahasiswa asing, dan jumlah karya tulis dosen yang dikutip di forum dunia.
Tak satupun universitas di Indonesia diperhitungkan dunia bila didasarkan pada lima kriteria di atas. Karya tulis yang diangkat dalam tulisan ini adalah tulisan para dosen. Birokrat kampus cenderung menganggap enteng komponen ini, tidak secanggih dan sepenting laboratorium kimia atau bahasa. Padahal tolok ukur berkualitasnya sebuah  PT bukan hanya keberadaan fasilitas   fisik   yang   canggih, melainkan  berkembangnya  budaya   baca-tulis  (literasi) dosen. Sudah saatnya budaya baca-tulis dosen dikondisikan di kampus. Menumbuhkan suasana akademis yang kondusif di banyak kampus belum optimal. Menurut Alwasilah (2005) rendahnya budaya menulis dosen disebabkan oleh manajemen PT kurang memberikan penghargaan atas karya tulis yang diproduksi oleh dosen. Manajemen PT seharusnya membangun suatu iklim yang kondusif bagi kegiatan tulis-menulis. Kegiatan yang terstruktur dan terencana baik dapat membangkitkan minat dan semangat dosen selaku insan akademis untuk mereproduksi pengetahuan. Sebagai contoh, Universitas Sriwijaya dengan pimpinan yang inovatif sangat peduli dengan berkembangnya budaya baca tulis dengan memfasilitasi para dosen yang akan mengaktualisasikan dirinya ke berbagai seminar dan konferensi baik tingkat nasional maupun internasional di dalam dan luar negeri.
Reproduksi pengetahuan (ilmu) sebagaimana ditegaskan Alwasilah (2005) merupakan olah-ulang iptek yang diperoleh dari sumber-sumber lain. Reproduksi ilmu memiliki ciri unggulan berikut  (1)  disajikan  dalam bahasa nasional, dan (2) ditulis  dalam konteks lokal. Makna yang tersirat dari ciri yang pertama adalah bahwa kaum intelektual (ilmuwan) menyajikan hasil reproduksi ilmu dalam buku teks dan jurnal berbahasa Indonesia. Banyak ilmuwan yang mengritik rendahnya kualitas buku teks terjemahan yang sengaja diterjemahkan guna memberdayakan bahasa Indonesia sebagai bahasa iptek. Ironisnya, mereka sendiri belum pernah menerjemahkan apalagi menulis buku teks.
Sementara itu, pemahaman atas sumber ilmu hasil reproduksi seyogyanya ditulis berdasarkan konteks lokal merupakan ciri kedua dari reproduksi ilmu. Kasus-kasus lokal mestinya berpijak pada kebenaran iptek yang universal. Implikasi karakteristik tersebut bagi pembaca adalah keterlibatan  mereka  (reader involvement)  dalam  memahami  fenomena  lokal dalam konteks kebenaran universal. Eksistensi fenomena dan nilai-nilai lokal menciptakan pembaca yang menganut sindrom kepenasaran intelektual (intellectual curiousity) karena mereka dicirikan sebagai insan akademis yang apresiatif yang berupaya melestarikan budaya sendiri sehingga think global, act locally melekat dalam diri mereka.
BUDAYA TULIS VS. MINAT TULIS
Kuantitas dan kualitas literasi (kemelekwacanaan) kalangan intelektual Indonesia mengalami suatu kesenjangan (disequilibrium) yang mencuat secara drastis. Kuantitas literasi secara komparatif lebih tinggi dari negara-negara berkembang lainnya. Hal ini didasarkan pada laporan Hadi (Sekjen PWI) pada tahun 2000 bahwa 84% penduduk Indonesia melek huruf, yaitu 168 juta dari populasi 200 juta. Prosentase ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan prosentase negara-negara berkembang lainnya yaitu sekitar 69%. Sekilas, laporan PWI tersebut membanggakan. Ironisnya, setiap tahun per satu juta penduduk Indonesia hanya terbit 12 buku. Ini masih sangat minim dibandingkan dengan negara berkembang rata-rata 55 judul per satu juta penduduk bahkan mencapai 513 judul di negara-negara maju (dikutip dari Alwasilah, 2005:58).
Sementara itu, kualitas kemelekwacanaan Indonesia masih menjadi suatu hal yang sangat fenomenal. Darma (1997) manandaskan bahwa peringkat terendah dalam mengusulkan proposal ke Ditjen Dikti Diknas diduduki oleh  dosen  PT.  Kemampuan  berbahasa  Inggris  dan  keterampilan menulis mayoritas dosen tergolong rendah. Akibatnya, publikasi ilmiah mereka pada tingkat internasional sangat rendah, yakni pada urutan ke-92, jauh di bawah Malaysia, Nigeria, dan Thailand.
Selanjutnya, kesenjangan antara kuantitas dan kualitas literasi bermuara pada beberapa pemikiran berikut. Pertama, kenyataan bahwa kuantitas literasi kita lebih tinggi dari negara-negara berkembang lainnya, seharusnya tidak memuaskan hati karena batasan-batasan literasi di setiap negara bersifat heterogen dari hanya mampu membaca dan menulis dan mengisi  formulir sampai mampu berperan dalam wacana budaya secara fungsional dan profesional. Sebagai contoh, penguasaan komputer terintegrasi dengan literasi dalam kurikulum SD negara maju. Kedua, produktivitas buku negara berkembang lainnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Indikator dari rendahnya tingkat produktivitas tersebut adalah keterampilan berbahasa kaum intelektual Indonesia belum mencapai taraf produktif (menulis), baru dalam taraf reseptif (membaca). Ketiga, kesenjangan kaum intelektual yang berkarir di universitas maupun badan pemerintah dalam hal tulis menulis tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Bila dosen yang kesehariannya begitu akrab dengan buku saja belum mampu menulis buku, apalagi mereka yang melakukan rutinitas karir okupasional yang pada prinsipnya tidak kondusif untuk memunculkan produktivitas karya tulis.
Ketiga pemikiran di atas menunjukkan bukti lemahnya produktivitas menulis. Menurut Alwasilah (2000:59) hal ini disebabkan oleh alasan kultural dan pendidikan. Secara kultural, bangsa Indonesia lebih dikenal dengan budaya dengar-ucap ketimbang baca-tulis. Hasil kesusastraan lisan pun lebih beragam dibandingkan dengan kesusastraan tulis. Kekayaan sastra lisan hampir musnah sehingga generasi sekarang banyak kehilangan jejaknya.  Penyebabnya adalah sastra lisan tersebut belum terdokumentasi secara tertulis. Akar permasalahan yang paling pokok dalam hal ini adalah wacana tulis bangsa Indonesia masih lemah.
Adakah isu strategis yang mampu menjadi alternatif penyelesaian akar permasalahan tersebut? Tumbuhkan dahulu minat menulis, kembangkan budaya menulis kemudian dalam suasana akademis yang kondusif melalui mekanisme berikut: (1) bertukar informasi tentang referensi yang dimiliki masing-masing dosen, (2) melakukan kegiatan tulis-menulis yang berorientasi pada pendekatan proses, dan (3) merespon karya sastra dengan mengaplikasi strategi respons pembaca. Mekanisme yang pertama berkaitan erat dengan sumber-sumber reproduksi pengetahuan. Seorang dosen lulusan jenjang magister, misalnya, dipastikan memiliki koleksi referensi yang sesuai dengan bidang kajiannya. Bila kurangnya referensi menjadi akar permasalahan rendahnya minat tulis dosen dan mahasiswa sebagai calon intelektual masa depan maka kegiatan tukar informasi tersebut sangat bermanfaat. Dengan melakukan pertukaran informasi diharapkan satu dosen dapat memfasilitasi sejawatnya yang membutuhkan referensi, sedangkan bagi mahasiswa, dosen tersebut melakukan diseminasi pengetahuan dan gagasannya untuk memotivasi minat menulis mereka. Selanjutnya, kegiatan menulis yang berorientasi  pada pendekatan  proses  sebagaimana hasil penelitian Alwasilah (1999) bahwa siswa mengalami proses menulis, mulai mencari topik dan ide, menulis draf, merevisi, sampai publikasi tulisan. Proses menulis jauh lebih bermakna dibandingkan dengan hasilnya. Mekanisme terakhir dari alternatif pemecahan masalah adalah merespons karya sastra dengan mengaplikasi strategi respons pembaca. Hasil penelitian Rudy (2005) mengindikasikan bahwa keterampilan menulis siswa dapat meningkat karena dikembangkan dengan mengaplikasikan strategi respons pembaca. Dalam hal ini, siswa merespons karya sastra secara tertulis dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan pemandu yang tersusun dari strategi respons pembaca.
Tampaknya dua mekanisme pertama sangat sesuai dilakukan di berbagai bidang keahlian. Apapun keahlian yang dimiliki oleh seorang intelektual pasti membutuhkan kegiatan tulis-menulis dalam rangka menginformasikan gagasan ataupun pengetahuannya. Sementara itu, mekanisme yang berkaitan dengan karya sastra, apakah ada relevansinya dengan pengetahuan yang diajarkan di jurusan selain jurusan bahasa? Permasalahan itu akan dipaparkan pada bagian tersendiri.

MEMADUKAN IPTEK DAN IMTAQ DALAM KONTEKS AKTUALISASI LITERASI

Bila iptek berada dalam tatanan sains (ilmu pasti), imtaq berdiri dalam tatanan humaniora.  Humaniora bertujuan untuk membuat manusia lebih menusiawi, arif, beradab, dan berbudaya. Termasuk dalam humaniora adalah ilmu-ilmu  seperti   teologi,  filsafat,  sejarah,  psikologi,  kesenian, linguistik, dan kesastraan yang akan memainkan perannya sebagai penyejuk jiwa dan peredam gejolak kekuasaan. Dengan kata lain, humaniora menjadi penjinak bom iptek yang rawan meledak.
Oleh karena itu, manusia Indonesia umumnya, kaum intelektual khususnya harus memiliki dua wawasan sekaligus. Di satu pihak, iptek diperlukan agar mampu mempertahankan hidup, di pihak lain, imtaq mampu meredam gejolak dalam dada kaum intelektual dari arogansi kekuasaan. Kita memang sangat mendambakan kemajuan teknologi, namun teknologi bukan berhala yang harus disembah. Sebagai umat beragama, kita tidak menginginkan lahirnya Hitler lain yang menciptakan kolonialisme dan imperialisme gaya baru.
Dengan bekal perpaduan dua wawasan yang dimiliki, para intelektual dapat mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks aktualisasi literasi. Di Indonesia, setiap tahun lahir 135.000 sampai 150.000 sarjana baru (intelektual baru). Andai saja 0,1% dari mereka mampu berkarya tulis, maka cerahlah wajah intelektual bumi ini.
Di awal telah dikemukakan bahwa pendekatan yang kini banyak dipraktekkan di Amerika adalah pendekatan proses. Kita bisa berkaca pada negara maju tersebut karena sudah tinggi budaya menulisnya dan mencermati bagaimana kebiasaan menulis mereka. Bahwa proses menulis jauh lebih berarti ketimbang hasil tulisan. Kaum intelektual yang kurang gemar menulis dilarang memojokkan dirinya dengan menegaskan bahwa ia tidak berbakat dalam  menulis,  bahwa  ia  tidak  memiliki  cukup  referensi  yang  mendukung proses menulisnya. Dua faktor tersebut tidak memiliki tingkat validitas yang tinggi. Kenyataan ini dibuktikan oleh Graves (1983) dalam penelitiannya tentang perkembangan menulis siswa SD.  Sementara itu, penelitian Harste, Wordward dan Burkel (1984) mengindikasikan bahwa anak-anak SD sebenarnya mau dan mampu menulis jauh sebelum mereka masuk sekolah. Hasil penelitian Rudy (1999) juga memperkuat hasil penelitian mereka bahwa anak yang baru mulai masuk SD sudah mampu menulis meskipun ia belum mampu membaca dan hasil tulisannya belum sempurna. Ketiga hasil penelitian menulis di tingkat dasar tersebut selain melumpuhkan dua faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas menulis kaum intelektual tersebut, juga menepis anggapan bahwa siswa tidak akan bisa menulis sebelum dapat membaca.
Selanjutnya, kaum intelektual yang sudah memiliki wawasan iptek yang tinggi, tetapi “miskin” imtaq seyogyanya mau bersahabat dengan ilmu humaniora. Salah satu humaniora yang dapat dijadikan alat pengendali arogansi iptek yang melekat di benak kaum intelektual tersebut yaitu kesusasteraan. Membaca karya sastra  tidak  hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai-nilai moral yang dapat memperhalus budi pekerti dan mendukung terbentuknya watak dan kepribadian yang dilandasi oleh iman dan taqwa (Moody, 1971;Collie & Slater, 1987; Carter & Long, 1991).
Membaca karya sastra tidak melulu identik dengan intelektual bidang bahasa. Bidang sains, teknologi, matematika, pertambangan, energi, masih sangat  relevan  bergelut  dengan  karya  sastra (Alwasilah, 2003). Ia lebih jauh menyoroti sebilangan  kekeliruan (misconception) baik secara konseptual maupun instruksional di kalangan akademisi Indonesia berdasarkan hasil observasinya tentang kekurangmampuan ilmuwan untuk menulis.  Salah satu dari kekeliruan tersebut adalah bacaan atau pengajaran sastra hanya relevan bagi mahasiswa fakultas sastra.  Salah gagas tersebut dapat difalsifikasi dengan sangat terbiasanya pembaca di negara-negara maju membaca dan merespons secara tertulis buku-buku sastra.  Kebiasaan membaca karya sastra terus berlanjut di kalangan dokter, insinyur, pengacara, pebisnis, politisi dan sebagainya di mancanegara dan juga merespons dengan cara menunjukkan “kemaniakan” mereka dalam menulis.  Sebagai contoh, seorang pria bangsa Rusia kelahiran 1963, Michail Khodorkovsky, pendidikan Medeleer Institute of Chemical and Technologies, pendiri bank swasta pertama di Uni Soviet dan memiliki posisi sebagai Wakil Menteri Energi, masih gemar membaca fiksi terutama karya Arthur Clarke (Kompas, 2003).  
            Sepakat dengan salah gagas eksistensi karya sastra yang diungkapkan Alwasilah di atas, Rudy (2010) menemukan bahwa sebanyak 89% responden dari semua fakultas di Universitas Sriwijaya setuju pentingnya mengapresiasi karya sastra di setiap fakultas yaitu untuk mengembangkan karakter mahasiswa.  Selain itu, sebesar 97% responden menanggapi positif kegemaran masyarakat di mancanegara membaca karya sastra. Temuan tersebut memposisikan karya sastra sebagai media yang mampu membangun imtaq kaum intelektual.
Dengan mengaktualisasikan literasi kaum intelektual di luar bidang bahasa, otomatis mereka yang telah menggondol baik wawasan iptek maupun imtaq atau baru mengadopsi wawasan iptek, membaca dan mengaplikasi karya sastra dapat menjadi alternatif jawaban atas tumpulnya kreativitas menulis mereka. Proses penumbuhan literasi tersebut dapat diawali dengan membaca karya sastra. Kemudian karya sastra itu direspons dengan mengaplikasikan tujuh respons pembaca yang terdiri atas strategi menyertakan (perasaan, pikiran, dan imajinasi pembaca dilibatkan ke dalam isi cerita), merinci   cerita  (mengidentifikasi  tokoh,  latar, alur dan unsur intrinsik lainnya), memahami (tindakan tokoh), menginterpretasi (perbuatan tokoh atau penulis cerita), menghubungkan (perasaan, pengalaman, budaya, sosial, agama, buku cerita lain atau film yang pernah ditonton pembaca dengan apa yang dialami tokoh) dan menilai (manfaat yang diperoleh dari   membaca karya sastra tersebut), ketujuh respons pembaca dikemukakan oleh Beach dan Marshall (1990). Butir-butir respons tersebut erat hubungannya dengan operasi dasar proses mental dan proses berpikir induktif. 
Matlin (1994:2) dalam bukunya yang berjudul Cognition mengemukakan bahwa kognisi atau aktivitas mental melibatkan pemerolehan, penyimpanan, pelatihan dan penggunaan pengetahuan (Cognition, or mental activity, involves the acquisition, storage, retrieval, and use of knowledge).  Proses mental tersebut digunakan dalam berpikir, mengingat, merasakan, mengenal, dan mengklasifikasi.  Operasi-operasi dasar yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran sastra adalah mengamati, membandingkan, mengklasifikasi, menghipotesiskan, mengoperasikan, merangkumkan, menerangkan, dan mengritik (Strickland, 1977 dalam Tarigan, 1995:39).
Selanjutnya pembaca berpeluang untuk membuat perbandingan baik dari segi persamaan maupun perbedaan karena banyak hal yang dapat diamati melalui kegiatan membaca.  Mereka juga harus mampu mengklasifikasikan ide-ide sebelum mereka dapat melihat serta memahami hubungan-hubungan yang ada di antara semua itu.  Membuat hipotesis mengenai tokoh dan alur cerita sangat  berguna  bagi  perkembangan keterampilan bernalar mereka.  Kegiatan yang cukup sulit bagi pembaca adalah memahami konsep waktu, urutan waktu, dan kapan peristiwa dalam cerita terjadinya. Sementara itu, kegiatan merangkum dapat dikembangkan dalam setiap jenis sastra.  Rangkuman dapat dikerjakan setelah pembaca membaca karya sastra, begitu juga dengan kegiatan menerapkan.  Dalam kegiatan ini, pembaca perlu memperoleh banyak kesempatan untuk menerapkan keterampilan, konsep, informasi atau gagasan-gagasan dari bacaan sastra.  Kegiatan mengritik memberi peluang kepada pembaca untuk tidak menerima begitu saja informasi atau gagasan yang tertuang di dalamnya.  Mereka dapat menilai atau mengevaluasi secara kritis apa yang mereka baca.

SIMPULAN


Proses globalisasi mengindikasikan adanya keharusan membuka diri akan perkembangan iptek, kesempatan, dialog, dan pilihan-pilihan baru pada skala global bagi seluruh komponen bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia umumnya, kaum intelektual khususnya,  dituntut untuk tidak hanya berwawasan iptek tetapi juga imtaq dalam bertindak-tutur dan mengomunikasikan pemikiran, gagasan dan ide-ide cemerlangnya melalui wacana literasi baik lisan maupun tulisan. Penuangan gagasan dilakukan dengan cara reproduksi pengetahuan dengan memperhatikan teknik olah-ulang iptek yang sesuai dan tidak menyalahi aturan-aturan baku yang telah disepakati.
Kaum intelektual yang berwawasan iptek dan imtaq sangat diperlukan dalam membangun dan mempersatukan bangsa Indonesia. Dengan wawasan iptek saja, kaum intelektual memang mampu mengaktualisasikan diri, menguasai berbagai aspek kehidupan dunia tanpa batas. Iptek dibutuhkan untuk mempertahankan hidup. Meskipun demikian, wawasan imtaq sangat dibutuhkan untuk mengendalikan gejolak-gejolak duniawi akibat penguasaan iptek yang melekat dalam diri dengan memancarkan arogansi kekuasaan. Humaniora dan agama seyogyanya dipadukan untuk membentuk sumber daya manusia yang berwawasan iptek, bernurani keindonesiaan, dan berwatak akhlakul karimah.




DAFTAR RUJUKAN


Alwasilah, A. Chaedar. 1993. “Memadukan Iptek dan Imtaq.” Suara Karya. 3 September 1993.
Alwasilah, A. Chaedar. 1998.  “Intellectuals Lack Writing Skills. “The Jakarta Post, January 3.
Alwasilah, A. Chaedar. 1999. “Respons Penulis terhadap Pembaca: Studi Kasus Tulisan Mahasiswa Pascasarjana IKIP Bandung.” Makalah. Dipresentasikan pada PELBBA VIII, Unika Atmajaya, Jakarta 26-27 Juli 1999.
Alwasilah, A. Chaedar. 2000. Perspekti Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: CV Andira.
Alwasilah, A. Chaedar. 2003.  “Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menulis.”  Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada FPBS UPI.  Depdiknas UPI.
Alwasilah, A. Chaedar. 2005. “Membangun Mesin Reproduksi Pengetahuan.” Pikiran Rakyat, 12 Januari 2005.
Beach, R.W. & J.D. Marshall. 1991.  Teaching Literature in the Secondary School.  New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Carter, R. dan M.N. Long. 1991.  Teaching Literature.  New York: Longman, Inc.
Darma, Surya. 1997. “Global Comparative  dan Tantangan Perguruan Tinggi Kita.” Republika. 1997.
Graves, Donald H. 1983. “The growth and development of first-grade writers.” Dalam Freedman, Aviva et al., Learning to Write: First Language/Second Language. London: Longman Group, Ltd.
Hadi Parna. 2000. Dikutip dalam Alwasilah, A. Chaedar. 2000. Perspekti Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: CV Andira.
Harste, Jerome C., Virginia A. Woodward, and Burke Carolyn L. 1984.  Language Stories & Literary Lessons.  Prtsmouth, N.H.: Heinemann Educational Books.










Kompas, Jakarta : 4 November 2003.
Moody, H.L.B. 1971.  The Teaching of Literature.  London: Longman Group, Ltd.
Rudy, Rita I. 1999. Facilitating Children to Write. Makalah. Pascasarjana IKIP Bandung.
Rudy, Rita I. 2005.  Model Respons Nonverbal dan Verbal dalam Pembelajaran Sastra untuk Mengembangkan Keterampilan Menulis Siswa SD : Studi Kuasi-Eksperimen di SD Negeri ASMI I, III, V Kota Bandung Tahun Ajaran 2003/ 2004.  Disertasi.  Bandung: Program Pascasarjana UPI.
Rudy, Rita I. 2005.  Keefektifan Model Respons Pembaca dan Simbol Visual dalam Pembelajaran Sastra di SD. Makalah.  Disajikan dalam Konferensi Internasional HISKI di Palembang, 18 – 21 Agustus 2005.
Rudy, Rita I. 2006.  The Enlightenment of Literature Instruction at Language Education Program.  Makalah.  Dipresentasikan pada Stadium Generale Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Sriwijaya, 6 Februari 2006.
Rudy, Rita I. 2010. Konsep Literature for All  dan Literature across Curriculum dalam Mengapresiasi Karya Sastra bagi Mahasiswa Calon Guru di FKIP Universitas Sriwijaya untuk Mengembangkan Karakter Siswa. Laporan Penelitian Hibah Kompetensi DP2M Dikti.
Tarigan, Henri G. 1995.  Dasar-dasar Psikosastra.  Bandung : Penerbit Angkasa.
Thornley, G.C. dan G. Robert, 1984.  An Outline of English Literature (New Edition) London: Longman Group, Ltd.














CURRICULUM VITAE


Rita Inderawati Rudy, lahir di Menado, 26 April 1967, Dosen Bahasa Inggris FKIP Unsri Palembang.  Menyelesaikan S1 Bahasa Inggris di FKIP Unsri Palembang tahun 1990, S2 Bahasa Inggris PPs UPI tahun 2001 (tesis tentang Literature Instruction in College) dan S3 Bahasa Indonesia PPs UPI 2005 (Disertasi tentang Model Pembelajaran Sastra di SD). Putra daerah Sumatera selatan ini  aktif dalam berbagai seminar nasional dan internasional, organisasi mahasiswa dan masyarakat.
Karirnya diawali dengan menjadi Humas Universitas Muhammadiyah Palembang dan guru Bahasa Inggris di SMU Arinda Palembang semasa berkuliah di S1.  Setelah lulus pada jenjang itu, ia konsentrasi mengajar di tingkat Perguruan Tinggi yaitu FKIP Unsri, mengajar mata kuliah Reading I dan berbagai fakultas di Unsri dengan mata kuliah Bahasa Inggris (MKDU).  Ia juga mengajar di STKIP PGRI (kini Universitas PGRI) dan pernah mengajar di Fakultas Hukum Universitas Palembang.  Selama menimba ilmu di Bandung, ia pernah menjadi instruktur managemen pendidikan dasar bagi kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia selama dua angkatan di ITB dan menjadi instruktur Bahasa Inggris bagi pegawai diklat selama tiga bulan di Diklat Daerah Jawa Barat.
Berikut ini adalah pengalamannya berorganisasi selama tujuh tahun di Kota Kembang Bandung :
1.      Sekretaris Forum Komunikasi Mahasiswa dan Alumni (FKMA) PPs UPI periode 2000-2001.
2.      Ketua I Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) PPs UPI periode 2001-2003.
3.      Sekretaris Dewan Sekolah SD Negeri ASMI Bandung periode 2002-2003.
4.      Sekretaris PPS PEMILU 2004 Kelurahan Karasak Bandung
5.      Ketua Umum Seminar Nasional Sastra di UPI Bandung tahun 2003.
Ia menjadi pemakalah sesi paralel pada seminar-seminar baik yang bertaraf nasional maupun internasional di antaranya :
1.      Responding through Visual Symbols : How Literature Instruction Survives in the Great Big World of Tests.  Dipresentasikan di Konferensi Nasional III, Testing and Evaluation in the Context of Undergraduate ELT in Indonesia, di ITB Bandung, 22-24 Februari 2000.
2.      Menata Perguruan Tinggi.  Dipresentasikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Revisi UU Sisdiknas dalam Memaknai Profesionalisme Jabatan Kependidikan di UPI pada tanggal 26 April 2001.
3.      Paham Budaya dan Mahir Berbahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat lanjut. 4th International Conference on the Teaching Indonesian to Speakers of Other Languages.  Dipresentasikan di Sanur Bali dalam KIP-BIPA IV dan diterbitkan dalam Prosiding Konferensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing IV.  Indonesian Australia Language Foundation (IALF), 1-3 Oktober 2001.

4.      Pengembangan Kualitas Pembelajaran Sastra sebagai Seni Bahasa dalam menggali Nilai-nilai Budaya di Perguruan Tinggi.  Dipresentasikan dalam Forum Sastra dan Budaya II di UPI Bandung, 24-26 Oktober 2002.
5.      Keefektifan Model Respons Pembaca dan Simbol Visual dalam Pembelajaran Sastra di SD.  Disajikan dalam Konferensi Internasional Kesastraan XVI HISKI 18-21 Agustus 2005, di Swarna Dwipa Palembang.
6.      The Enlightenment of Literature Instruction at Language Education Program. 2006. Makalah yang disajikan pada Stadium Generale JPBS FKIP Unsri
Karya ilmiah dan artikel yang pernah ditulis, didokumentasikan dan diterbitkan selama menimba ilmu di PPs UPI adalah sebagai berikut ;
1.      Facilitating Children to Write.  Penelitian PPs UPI Bandung tahun 1999.
2.      Immature Phonological System : A Case Study on a Child in Acquiring His First Language.  Penelitian PPs UPI tahun 1999.
3.      Pemimpin Era Milenium Baru Rawan Gizi.  Diterbitkan di HU Pikiran Rakyat Bandung tahun 1999.
4.      Pelecehan pada Pendidikan Tinggi.  Diterbitkan di HU Galamedia Bandung tahun 2000.
5.      Literature Instruction in EFL Classrooms : An Ethnographic Study of Promoting Students Literary Appreciation and Language Skills at the English Department of UPI Bandung.  Tesis.  Bandung : PPs UPI tahun 2001.
6.      Kolaborasi antara Respons Verbal dan Nonverbal dalam Pengajaran Sastra untuk Mengembangkan Kompetensi Berbicara dan Menulis. “Dipresentasikan pada Seminar Nasional Sastra di UPI dan diterbitkan Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Vol. 3 No. 4 April 2003. FPBS UPI Bandung.
7.      ‘Rabun Sastra’: Tanggung Jawab FPBS-kah ? Diterbitkan dalam Prosiding Seminar Nasional Pemacu Prestasi dan Prestise Alumni FPBS UPI dan Program Studi Pengajaran  Bahasa Indonesia PPs UPI.  Bandung : Penerbit Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.

Keikutsertaannya dalam organisasi mahasiswa sudah dilakoninya sejak menuntut ilmu di FKIP Unsri Palembang.  Ia berperan aktif dalam organisasi masyarakat ketika meneruskan studinya di Bandung selama tujuh tahun.
Setelah menyelesaikan studi S3 di UPI Bandung 2005, ia telah menulis kurang lebih 35 makalah konseptual dan berbasis riset yang telah dipresentasikan di seminar dan konferensi nasional dan internasional. Ia tercatat telah tiga kali presentasi di luar negeri: Hong kong University (2007), Universiti Sain Malaysia (2010), dan Thammasat University Bangkok (2011). Penelitian dari Dikti telah lima kali diperolehnya sejak 2006 hingga 2010 (hibah PHK A2, Hibah bersaing tahun I, hibah bersaing tahun II, Hibah Potensi Pendidikan, dan Hibah Kompetensi). Berkat keuletannya melakukan penelitian, ia dinobatkan oleh Universitas Sriwijaya sebagai Peneliti Terbaik bidang Pendidikan tahun 2010 dan terpilih sebagai dosen berprestasi Universitas Sriwijaya. Sementara itu, beberapa buku telah dihasilkan meskipun baru sebatas buku bunga rampai. Tahun 2011 ini, ia sedang menyiapkan  3 buku hasil penelitiannya.



******

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda