Sabtu, 19 Maret 2011

Paper presented at FORKIBASTRA International Seminar at Sanjaya Hotel in Palembang, August 2010

Menggagas Konsep Literature for All dalam Pengembangan Sastra Lokal sebagai  Panasea bagi Pembentukan Karakter Bangsa
Oleh:
Rita Inderawati Rudy
JPBS FKIP Universitas Sriwijaya


Pendahuluan
Abad ke-21 menantang kita untuk lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Lonjakan gejolak yang mewarnai persada ini tidak pernah surut memojokkan bangsa Indonesia. Berbagai kemelut yang melanda bangsa diharapkan mampu diatasi lewat jalur pendidikan. Pendidikan menjadi fenomena yang muncul sebagai sebuah kekuatan utama yang mampu mempengaruhi kualitas manusia. Dewasa ini, sering terjadi peristiwa yang kurang terpuji di kalangan pelajar. Siswa sekolah menengah melakukan tawuran dan perkelahian, sedangkan mahasiswa selain melakukan aksi perkelahian dan tawuran, mereka juga menunjukkan sifat anarkhis dan destruktif.
Ilustrasi di atas membuka lebar mata dan cakrawala berpikir SDM Indonesia yang kesehariannya bergelut dengan bahasa untuk turut mengambil bagian dalam membangun karakter bangsa. Landasan pembangunan nasional selayaknya tidak hanya bertumpu pada sains dan teknologi tetapi juga harus berlandaskan humaniora. Salah satu cabang ilmu sosial yang dapat menjadi alternatif merajut tatanan kenegaraan dan menjadi alat pengendali arogansi iptek adalah sastra. Membaca karya sastra  tidak  hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai-nilai moral yang dapat memperhalus budi pekerti dan mendukung terbentuknya watak dan kepribadian yang dilandasi oleh iman dan taqwa (Rudy, 2009). Sejalan dengan kenyataan ini, Husniah dan Arifani (2010) mengemukakan hal berikut.
Saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis moral yang berkepanjangan. Jika demikian, bisa dikatakan bahwa ada yang kurang tepat dengan pendidikan Indonesia sehingga sebagian bangsanya menjadi bangsa yang anarkis, kurang toleran dalam menghadapi perbedaan, dan korup. Selain pengajaran agama, salah satu pelajaran yang mengajarkan budi pekerti ialah sastra. Membaca sastra berarti mengenal berbagai karakter yang sebagian besar merupakan refleksi dari realitas kehidupan. Dengan demikian, pembaca akan memahami motif yang dilakukan setiap karakter baik yang protagonis maupun yang antagonis sehingga pembaca dapat memahami alasan pelaku dalam setiap perbuatannya.

Sepakat dengan rincian Rosenblatt di atas, aspek kecerdasan, kebajikan, moral, dan kebijaksanaan dapat ditingkatkan melalui sastra. Kecerdasan emosional peserta didik dapat diberdayakan dengan mengaktifkan penafsiran terhadap karya sastra secara bebas, liar, dan meronta-ronta, bukan gaya (genre) sastra, siapa tokoh cerita atau siapa pengarangnya yang menjadi motor pencerdas tersebut. Dengan kata lain, sastra mampu menjadi motor penggerak yang efektif untuk meningkatkan aspek-aspek tersebut.
Manfaat pembelajaran sastra sudah sangat banyak dikemukakan para ahli sastra. Ironisnya, teori-teori yang membahas manfaat sastra belum menyentuh tataran praktis. Untuk mencapai tataran praktis, teori-teori tersebut harus dieksplorasi dan dianalisis ke arah terciptanya pembelajaran sastra yang estetik, pembelajaran yang mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Pembelajaran sastra yang dapat mengembangkan ketiga aspek penting tersebut telah diteliti dan dikembangkan. Rudy (2001) menemukan bahwa apresiasi sastra dengan mengaplikasikan strategi respons pembaca dapat meningkatkan kemampuan apresiasi sastra mahasiswa. Pada tahun 2005, Rudy meneliti bahwa kemampuan menulis siswa SD dapat meningkat dengan mengapresiasi karya sastra yang menggunakan respons pembaca dan simbol visual. Penelitian-penelitian selanjutnya merupakan penelitian pengembangan yang penulis lakukan agar pembelajaran sastra dengan kolaborasi respons pembaca dan respons simbol visual berkontribusi positif terhadap apresiasi sastra dengan memanfaatkan sastra lokal untuk turut melestarikan budaya lokal Indonesia. Talib (2010) turut memberikan penekanan mengenai hal itu sebagai berikut.
Dengan melihat pentingnya peranan bahasa dan sastra lokal dalam masyarakat, maka perlu dilakukan pelestarian sedini mungkin. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah dengan mengaktifkan kembali kegiatan pewarisan budaya lokal atau leluhur yang mempunyai makna luhur baik melalui jalur keluarga, terutama jalur pendidikan.

Jejak penelitian yang mengangkat respons pembaca dan respons simbol visual sebagai paradigma baru apresiasi sastra yang mementingkan peran pembaca ketika bergaul dengan karya sastra diikuti oleh peneliti-peneliti lainnya sebagai bukti bahwa kolaborasi kedua respons efektif meningkatkan kemampuan mengapresiasi karya sastra yang tidak hanya mencerdaskan kognisi  tetapi juga afeksi peserta didik. Selain itu, hasil penelitian tersebut diaplikasikan dalam pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan setidaknya oleh para peneliti lanjutan dan mahasiswa yang telah menjadi subjek penelitian. Dengan demikian, kolaborasi respons hasil penelitian  menjadi obat mujarap yang ampuh (panasea) bagi pembentukan karakter peserta didik karena unsur-unsur pembangun karya sastra bukan hanya diidentifikasi tetapi dieksplorasi tanpa takut terbelenggu dalam kata-kata.
Paparan di atas memberikan gambaran singkat mengenai pentingnya pembelajaran sastra diajarkan di seluruh jenjang pendidikan. Makalah ini lebih jauh membahas tentang peta penelitian (roadmap) mengapresiasi karya sastra dan pembelajaran apresiasi sastra sebagai mata kuliah tambahan atau muatan lokal (local content) atau terintegrasi ke dalam mata kuliah kepribadian dengan konsep literature for all di jurusan atau program studi non bahasa di fakultas keguruan agar mahasiswa dapat memperhalus budi pekerti dan mengembangkan watak dan kepribadian yang baik selama menekuni perkuliahan. Pada akhirnya, pembelajaran apresiasi sastra dapat diperkenalkan dan diimplementasikan pada fakultas-fakultas non kependidikan dengan mengeksplorasi karya sastra lokal atau karya sastra dengan genre novel atau karya sastra yang berlatar-belakang bidang keilmuan mahasiswa masing-masing dan mengapresiasinya dengan mengaplikasikan kolaborasi respons pembaca dan respons simbol visual.
Peta Penelitian Pembelajaran Apresiasi Sastra
Gagasan mengedepankan konsep Literature for All berawal dari penelitian-penelitan apresiasi sastra yang telah 12 tahun terakhir ini penulis teliti dan kembangkan dengan memanfaatkan teori respons pembaca (reader response strategy) yang dikenalkan oleh Beach dan Marshall (1990) dan teori respons simbol visual (visual symbol response) yang dikemukakan oleh Purves, dkk. (1991). Berikut ini dipaparkan beberapa penelitian yang dihasilkan oleh penulis melatar-belakangi pengenalan konsep Literature for All dalam mengapresiasi karya sastra sebagai media bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi dan mempertahankan budaya lokal, serta memperoleh manfaatnya dalam memperhalus budi pekerti, membentuk karakter dan mengembangkan kepribadian. Pertama, penelitian berlatar eksperimen terhadap siswa SD dengan hasil: (a) model respons nonverbal dan verbal dalam pembelajaran sastra secara keseluruhan dapat meningkatkan aspek keterampilan menulis siswa, (b) model respons nonverbal dan verbal dalam pembelajaran sastra mempunyai keunggulan dalam mengembangkan tiga ranah taksonomi yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor, dan (c)  bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi pembelajaran sastra adalah tes subjektif (esei atau uraian) sehingga siswa dapat secara bebas mengekspresikan perasaan, pikiran, dan imajinasi mereka secara  tertulis. Penelitian ini memfalsifikasi temuan Mulyana (2000) bahwa apresiasi sastra mahasiswa dievaluasi dengan menggunakan tes objektif (pilihan ganda).
Kedua, penelitian dan pengembangan di prodi bahasa Inggris FKIP Universitas Sriwijaya dengan hasil penelitian sebagai berikut:
(a) Model pembelajaran sastra yang mengadopsi perspektif estetik dirancang atas tiga unsur pokok pembangun model yaitu: orientasi model, model pembelajaran, dan aplikasi model dengan mengolaborasikan respons pembaca dan visual simbol  berkontribusi positif terhadap pengembangan aspek-aspek penting dalam pembelajaran yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor dan mahasiswa sangat memerlukan model ini karena mereka adalah calon guru yang akan terjun ke lapangan pendidikan. Bila diterapkan di jenjang pendidikan di bawah tingkat universitas, model tersebut memfasilitasi siswa dalam mengolah otak, rasa, dan aksi. Model ini akan terus berkembang sejalan dengan pengetahuan dan teori yang dijadikan dasar menciptakan model pembelajaran karena bila dicermati masih dapat dikembangkan lagi model tersebut berdasarkan indikator-indikator yang terkandung dalam teori respons pembaca.
(b) Model pembelajaran sastra tidak terlepas dari penyeleksian materi ajar berupa cerita pendek yang tepat digunakan di prodi Bahasa Inggris. Media yang ditawarkan kepada mahasiswa adalah internet yang menyediakan ribuan cerita pendek dengan latar cerita beragam (sosial, politik, religi, budaya, dan ilmu pasti). Dari 30 cerpen yang dibrowsing oleh mahasiswa, sekitar 75% memenuhi kriteria yang baik dengan beragam latar cerita.
 (c) Model pembelajaran sastra hasil hibridasi dua respons yang berbeda dapat diaplikasikan ke berbagai jenjang pendidikan dengan menyediakan pertanyaan pemandu berdasarkan indikator yang dimiliki setiap respons. Penyusunan pertanyaan pemandu dilatihkan kepada mahasiswa setelah membaca karya sastra.
(d) Untuk kelengkapan model pembelajaran sastra tersebut, peneliti merancang skenario pembelajaran sastra berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan peneliti di prodi Bahasa Inggris JPBS FKIP Universitas Sriwijaya.
Kedua, ujicoba keefektifan model pembelajaran respons pembaca dan simbol visual dalam mengembangkan keterampilan menulis dan berbicara mahasiswa dilakukan dengan cara merespons karya sastra merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya (Rudy, 2008). Model pembelajaran ini secara keseluruhan dapat meningkatkan aspek keterampilan menulis dan berbicara. Hal ini dapat dibuktikan dari kemampuan menulis mahasiswa di kelas kuasi-eksperimen mengalami peningkatan dimulai dengan tes awal rata-rata 57,50 menjadi 73,98 pada nilai tes akhir. Sedangkan kemampuan berbicara mahasiswa sebelum mendapat perlakuan sebesar 3,4% mengalami peningkatan sebesar 69% menjadi 74,4% setelah menggeluti pembelajaran yang berbasis respons pembaca dan simbol visual. Hasil apresiasi sastra ditinjau dari kualitas merespons dapat disimpulkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor berkembang dari kurang jelas dan kurang tepat menjadi jelas, tepat, dan rasional berdasarkan gagasan tentang setiap tahap dari dua aspek pertama yang dikemukakan oleh mahasiswa.
            Keempat, penelitian dan pengembangan tentang model pembelajaran seni pertunjukan sastra lokal sebagai upaya mengembangkan pendidikan olah pikir, rasa, dan karsa serta mendukung industri kreatif di Sumatera Selatan dengan hasil sebagai berikut:
(a)    Model pembelajaran apresiasi sastra, di samping berubah dari pengenalan respons simbol visual menjadi pengenalan respons pembaca terlebih dahulu dengan argumen yang kuat yaitu aspek kognitif dan afektif harus dikembangkan lebih dahulu sebelum aspek psikomotor, mengalami pengembangan dalam beberapa aspek. Pada respons “merinci”, mahasiswa tidak hanya merinci unsur-unsur intrinsik, tetapi juga memberikan pendapat dan argumentasi tentang unsur-unsur intrinsik tersebut. Sementara itu, respons “menghubungkan” setelah teori respons pembaca ditelaah lebih dalam, dosen menambahkan indikator lainnya seperti kehidupan sosial, budaya, dan religi. Sedangkan respons simbol visual menambah satu kegiatan yang dapat mempertajam aspek psikomotor yaitu dengan memperagakan. Dengan demikian, skenario proses pembelajaran ini mengalami perbaikan dalam hal memulai pembelajaran dari respons pembaca diikuti dengan respons simbol visual, penambahan indikator-indikator utama yang penting setelah membaca kembali teori respons pembaca dan simbol visual, serta pengurangan atau pengefisienan waktu dengan cara menggabungkan beberapa respons yang dianggap tidak sulit dalam satu pertemuan. Di akhir pembelajaran, ada penambahan aktivitas motorik mahasiswa dengan cara mengolaborasikan simbol visual tablo dan sosiogram untuk menciptakan sebuah tampilan seni pertunjukan yang kreatif.
(b)   Berdasarkan hasil uji-t dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata postes mahasiswa di prodi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris mengalami peningkatan yang signifikan setelah mengikuti model pembelajaran seni pertunjukan sastra lokal dalam mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor untuk mendukung industri kreatif di Sumatra Selatan.
(c)    Untuk mengetahui aspek-aspek yang mempengaruhi mahasiswa dalam mengapresiasi sastra lokal digunakan angket khusus yaitu LRQ yang terdiri atas aspek-aspek berikut personal insight, non personal insight, insight combined, imagery vividness, empathy, leisure escape, concern with author, dan rejection of literary values. Dari ke tujuh aspek, yang sangat mempengaruhi mahasiswa bahasa Inggris adalah aspek empati.
(d)   Berdasarkan data yang diperoleh dari kuesioner dapat disimpulkan bahwa respons yang digunakan sebagai paradigma baru apresiasi karya sastra tersebut sangat efektif dalam mengembangkan kemampuan penalaran, menajamkan emosional, dan memberikan warna baru dalam dunia apresiasi sastra.
Diteliti dan dikembangkannya strategi respons pembaca selama satu dekade ini dapat ditelusuri dari beberapa temuan penelitian yang sangat relevan dengan sintaksis atau rangkaian kegiatan pembelajaran yang mengaplikasikan model respons pembaca. Barr (1991) dalam bukunya Handbook of Reading Research mengedepankan banyak penelitian yang memfokuskan penelitiannya pada respons pembaca. Pertama, pada penelitian yang dilakukan Hansen ditemukan bahwa engaging “menyertakan” yang dilakukan pembaca lebih bersifat pasif responsif terhadap puisi optimis dan emosi isi teks sastra mempengaruhi emosinya. Sedangkan  Shedd menemukan bahwa sikap pembaca sangat mempengaruhi keikutsertaan emosinya pada strategi engaging. Oleh karena itu, pembaca dengan sikap positif terhadap teks sastra menunjukkan penyertaan emosi yang lebih tinggi dibandingkan mereka dengan sikap negatif. Sikap ketertarikan seorang pembaca terhadap teks sastra cenderung menghantarnya ke penerapan emosi dan daya intelektual yang lebih tinggi merupakan penelitian yang dilakukan oleh Purves.
Penelitian-penelitian lain yang turut mewarnai kegiatan engaging seperti yang dilakukan oleh Chasser (1977) dalam rangka menyelesaikan disertasinya dengan siswa SD sebagai subjek penelitiannya, Golden dan Guthrie (1986) meneliti siswa SD, dan Hansson (1986) meneliti proses emosional siswa dengan membaca puisi dan prosa. Ketiga abstrak penelitian ini dapat dilihat dalam Farrell dan Squire (1990:180).
            Sementara itu, hasil penelitian yang membahas strategi conceiving belum banyak dilakukan. Beach dan Wendler meneliti pemahaman mahasiswa terhadap perilaku tokoh dalam aspek psikologisnya, sementara siswa sekolah menengah memahami hal itu dari aspek fisik.
            Strategi connecting mengaitkan sikap, pengalaman, dan pengetahuan pembaca dengan teks sastra. Beach meneliti pembaca yang menyertakan pengalaman hidupnya dan Lipson menyertakan sikap budaya. Sementara itu, Beach dan Harstle menemukan persentase tinggi yang menghubungkan teks sastra yang dibacanya dengan pengalaman dan sikap pribadi mereka.
            Penelitian yang berhubungan dengan respons merinci (describing) dilaksanakan oleh Singer dan Donlan. Temuan mereka adalah pembaca yang telah belajar tentang cara bertanya dalam menghadapi teks sastra lebih mampu memahami cerita dibandingkan dengan pembaca yang tidak pernah belajar tentang cara bertanya dalam menghadapi teks sastra. Newkirk dalam penelitiannya menemukan bahwa pembaca lebih mampu membuat strategi pemecahan tentang kesulitan yang dihadapi ketika ia mampu mengartikulasi kesulitan dalam memahami teks.
Dalam respons menjelaskan (explaining), Black dan Seifert menemukan bahwa sikap terhadap kegiatan membaca tentang perilaku tokoh cerita, keyakinan, dan hubungan antar tokoh cerita melibatkan kemampuan pembaca dalam menjelaskan perilaku tokoh cerita. Sementara Bruce meneliti bahwa kecenderungan ciri teks sastra modern yang melepaskan atribut motif dan keyakinan tokoh cerita berkontribusi positif terhadap kesulitan siswa untuk menjelaskan perilaku tokoh cerita itu.
Hunt dan Vipond dalam penelitian mereka mengemukakan kegiatan interpreting bahwa sebagian besar pembaca muda dan dewasa sedikit sekali belajar tentang orientasi butir-butir petunjuk yang akan membekali mereka untuk menginterpretasi amanat pengarang dalam karya sastra tertentu. Penelitian yang dilakukan Svennson menghasilkan kesimpulan bahwa siswa yang lebih menaruh perhatian pada sastra di sekolah dan di rumah cenderung mampu melakukan kegiatan interpretasi. Sementara itu, Educational Commission of the States menyimpulkan bahwa menggeneralisasi atau menganalisis teks merupakan kegiatan yang paling sulit dibandingkan dengan kegiatan menceritakan kembali, menyertakan, dan mengevaluasi pada saat merespons. Sedangkan kesimpulan yang diperoleh Heath, Black, dan Seifert dalam penelitian mereka adalah bahwa pengalaman pembaca dalam membaca karya sastra sangat mempengaruhinya dalam berinterpretasi.
Kegiatan respons pembaca yang terakhir adalah judging. Parnell menyimpulkan bahwa penilaian tingkat estetik mahasiswa berkorelasi dengan tingkatan kedewasaan kognitif mereka. Peneliti lain seperti Binkney menemukan perbedaan yang signifikan antara penilaian orang dewasa dengan siswa sekolah menengah terhadap sebuah novel dalam hal kriteria, masalah, rekomendasi, dan penampilannya.
Konsep Literature for All Sebagai Muatan Lokal Mata Kuliah Kepribadian dalam Membentuk Karakter Bangsa
Gagasan konsep Literature for All dalam mengapresiasi karya sastra secara spontan penting penulis kemukakan setelah mendapatkan informasi baik secara lisan maupun tulisan bahwa masyarakat di mancanegara apapun kedudukannya dalam kehidupan bermasyarakat masih tetap membaca karya sastra untuk menumbuhkan sikap dan kepribadian yang berkarakter karena membaca karya sastra telah mereka peroleh sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ada 9 pilar karakter yang mengandung nilai-nilai luhur universal yaitu: 1) cinta tuhan dan alam semesta beserta isinya, 2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian, 3) kejujuran, 4) hormat dan sopan santun, 5) kasih saying, kepedulian, dan kerjasama, 6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, 7) keadilan dan kepemimpinan, 8) baik dan rendah hati, dan 9) toleransi, cinta damai, dan persatuan. Nilai-nilai inilah yang harus dikembangkan dalam diri peserta didik melalui apresiasi karya sastra.
Dalam pengamatan penulis, selama ini apresiasi karya sastra hanya diberikan kepada siswa di seluruh jenjang pendidikan dan mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra dengan pendekatan struktural. Gejolak dan berbagai fenomena yang terjadi di kalangan pelajar menyudutkan dunia pendidikan yang gagal menghantarkan peserta didik menjadi manusia yang berkarakter. Saat ini percarian terhadap model pembelajaran yang mampu mengembangkan kepribadian dan menajamkan afeksi siswa sedang digalakkan. Seluruh elemen bangsa berupaya di bidangnya masing-masing menemukan cara yang efektif menghasilkan SDM yang bermental dan bermoral baik.
Penggalakan bentuk pembelajaran yang berkarakter  memotivasi penulis untuk menggagas konsep sastra untuk semua. Gagasan konsep ini terinspirasi dari istilah education for all yang telah dikumandangkan dalam satu dasawarsa oleh Kementrian Pendidikan Nasional, diikuti dengan science for all yang digaungkan oleh Kementrian Riset dan Teknologi tiga tahun terakhir. Secara spesifik, konsep literature for all belum pernah dikedepankan dalam rangka mengembangkan pendidikan yang berkarakter. Meskipun demikian, banyak juga kalangan yang menginginkan pendidikan yang berkarakter melalui pembelajaran sastra. Di antaranya, forumpurworejo.blogspot.com (2010) mengungkapkan:
Kerinduan generasi muda akan karya sastra, memang tidak mengglobal, akan tetapi justeru hal inilah kelemahan dunia sastra kita. Ia semakin dijauhi saja. Padahal karya sastra dapat membentuk karakter generasi bangsa kita. Adalah besar harapan pembentukan karakter generasi bangsa, karakter masyarakat khususnya di Purworejo dapat terjembatani melalui Dewan Kesenian Purworejo, sehingga dapatlah terkondisikan pementasan karya seni semisal karya sastra dan ekspresi seni yang lain, seperti seni teater, seni pedalangan, seni tari, seni karawitan. sampai seni-seni tradisional yang khas di Purworejo dapat tetap eksis dan terbina.

Kutipan di atas diperkuat juga oleh pendapat Kotller (1990) bahwa majunya suatu bangsa ditentukan oleh nilai dan karakter yang menjadi modal kehidupan sosial dan berbangsa dimana kualitas dan perilaku masyarakat sebagai faktor budaya yang menjadi modal sosial (social capital)  merupakan kunci sukses keberhasilan sebuah negara yang ditentukan oleh sejauh mana negara tersebut mempunyai budaya yang kondusif  untuk maju. Sementara itu, kalangan sastrawan yang diwakili oleh Putu Wijaya pun berharap pembelajaran sastra harus dibelajarkan kepada semua jurusan, karena tanpa menguasai sastra, tata bahasa hanya akan menjadi alat menyambung pikiran/logika dan bukan menyambung rasa (Wijaya, 2007). Berbagai pendapat tersebut pada akhirnya memfasilitasi penulis untuk memberdayakan pembelajaran sastra berbasis respons pembaca dan simbol visual yang sudah teruji melalui beberapa penelitian yang telah penulis lakukan dalam kurun waktu 12 tahun ini untuk mengembangkan karakter bangsa sehingga sembilan pilar karakter bangsa dapat terwujud.
Masalah pokok yang muncul ketika gagasan akan diimplementasikan ke dalam pembelajaran adalah posisi yang tepat dari mata kuliah tersebut di dalam kurikulum dan tenaga pengajarnya. Di awal telah dipaparkan bahwa gagasan sastra untuk semua dapat menjadi muatan lokal atau terintegrasi dalam rumpun mata kuliah kepribadian. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikutip dari Bataviase.co.id berikut.
Dalam setiap perkembangan sastra ada rantai kerja sama simbiosis mu-tualisme yang harus terbangun antara Pemerintah, media massa, LSM, komunitas-komunitas seni dan sastra serta masyarakat. Di sinilah peranan setiap komponen untuk saling menjaga dan mendukung, melestarikan sastra dan kebudayaan Indonesia. Negara yang kaya akan kebudayaan dan suku. Kaya berbagai sudut pandang tapi satu tujuan. Pastinya kita sebagai arek Indonesia tidak ingin kecolongan. Upaya untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi penerus harus terus dilakukan. Mengembalikan muatan lokal. Namun, sebagian daerah di Indonesia menghapus muatan lokal dari kurikulum.
Ironisnya, muatan lokal di beberapa sekolah dihapuskan. Peniadaan muatan lokal dari kurikulum beberapa daerah disinyalir karena kekurangpahaman pendidik dan jajarannya terhadap esensi muatan lokal. Oleh karena itu, diharapkan makalah ini dapat memberi manfaat di bidang pendidikan dengan memasukkan pembelajaran apresiasi sastra ke dalam muatan lokal di perguruan tinggi fakultas pendidikan sebagai bekal bagi mahasiswa calon pendidik di seluruh jenjang pendidikan.
Implementasi Pembelajaran Apresiasi Sastra di Perguruan Tinggi

                Gagasan konsep literature for all dalam makalah ini dibatasi untuk mahasiswa keguruan non-kebahasaan. Pembelajaran apresiasi sastra yang dimaksud tidak akan dilakukan secara klasikal melainkan         secara praktis dengan memberikan seperangkat pertanyaan pemandu yang telah disusun berdasarkan teori respons pembaca dan simbol visual. Mahasiswa tidak perlu lagi diberi perlakuan model pembelajaran; mahasiswa dapat dengan segera mengapresiasi karya sastra dengan panduan pertanyaan tersebut.  Beach dan Marshall (1991:28) mengedepankan strategi respons pembaca terdiri atas tujuh strategi yaitu:  menyertakan, merinci, menjelaskan, memahami, menafsirkan, menghubungkan, dan menilai. Berikut ini penjelasan dan panduan merespons karya sastra.
1.      Menyertakan (engaging): Pembaca selalu berusaha mengikutsertakan perasaannya terhadap karya sastra yang dibacanya. Pembaca meleburkan diri ke dalam teks, membayangkan apa yang terjadi dan merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh cerita.
Purves, dkk. (1990) menambahkan definisi di atas bahwa ketika membaca karya sastra pembaca tidak hanya menyertakan perasaan tetapi menyertakan pikiran dan imajinasi juga sebagaimana yang dikutip dari pernyataan mereka “Literature and the arts exist in the curriculum as a means for students to learn to express their emotions, their thought, and their imaginations.”
 Menurut Kimtafsirah (2003:6) pembaca yang sedang “engaged” dengan teks, meleburkan diri dengan teks dalam istilah Rosenblatt sedang menerapkan aesthetic reading. Dalam aesthetic reading, pembaca seolah-olah masuk ke dalam teks dan hidup di sana agar dapat memahami tingkah laku para tokoh cerita. Dengan demikian, pembaca dapat merespons secara emosional dengan mudah sehingga pemahaman tercapai. Pertanyaan yang dapat memandu respons menyertakan  adalah:
a.      Can you feel what is felt by the character? What does he/she feel?
b.      Would you do the same thing if you were the character? Explain it.
c.       Can you imagine what happens? Explain it.
2. Merinci (describing): Pembaca merinci atau menjelaskan kembali informasi yang tertera di dalam teks. 
Pembaca merinci tokoh-tokoh cerita, penokohan, latar cerita, dan alur cerita. Artinya, pembaca menceritakan kembali cerita yang telah dibacanya dan merinci peristiwa-peristiwa yang dianggap penting untuk dipahami.  Ketika membaca sebuah teks sastra, akan ditemukan hal-hal yang berbeda dalam teks yang sama. Mahasiswa menceritakan bagian-bagian yang menarik perhatian mereka, setidaknya dalam tiga kalimat. Sebelumnya, mereka dapat merinci semua unsur pembangun karya sastra secara struktural seperti: tokoh dan penokohannya, latar, dan alur cerita. Mahasiswa merinci isi cerita dengan menjawab pertanyaan berikut.
a.      What do you think of the character of the story? Is he/she good or bad? Do you like or dislike? Explain your choice.
b.      Where does the story happen? Do you like the setting? Why?
c.       Does the story tell about good things?
d.      Is the story reasonable? Is the style of the story communicative of figurative? Explain it.
e.  What event in the story do you think is very important? Why?
Penerapan respons ini dapat memfasilitasi peserta didik dalam mencapai kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian. Setelah membaca Malin Kundang, pertanyaan pertama diajukan kepada mereka. Malin Kundang sebagai tokoh yang durhaka dalam cerita itu menuai kritik yang tajam dari hasil apresiasi. Peserta didik tidak akan menyukai tindakan dan perilaku sang tokoh. Mereka belajar jujur, kasih sayang, dan peduli setelah mengapresiasi dan mengeksplorasi cerita tersebut.
3. Memahami (conceiving): Pembaca memahami tokoh, latar cerita, dan bahasa yang digunakan dalam sebuah cerita dan memaknainya.                           
Dalam kegiatan ini, mahasiswa memahami para tokoh cerita dengan menerapkan pengetahuan mereka tentang tingkah laku sosial dalam masyarakat dan latar belakang budaya. Pemahaman terhadap tokoh cerita tersebut didukung pula oleh pendapat Kimtafsirah (2003:7) bahwa pengetahuan tentang teks tidak dapat dipisahkan dengan pemahaman social behaviour dan cultural background yang direfleksikan dari teks. Sebagai contoh, ketika mahasiswa membaca cerita dengan adat istiadat dan latar budaya yang berbeda dengan mereka maka mereka dapat memahami tingkah laku tokoh cerita tersebut bukan berasal dari budaya mereka. Pertanyaan yang dapat memandu pemahaman mereka adalah: Why does the character behave like what he/she does?
4. Menerangkan (explaining): Mahasiswa mencoba menjelaskan sebaik-mungkin mengapa tokoh cerita melakukan suatu tindakan.                                                   
a.      A character is extremely hated by someone but he/she keeps patient and obeys. What do you think of the character’s action?
b.      Do you agree or disagree  to the character(s)’ action? Why?

5. Menghubungkan (connecting): Mahasiswa menghubungkan pengalaman mereka dengan apa yang terjadi pada tokoh cerita.
            Kegiatan lain dalam strategi ini adalah menghubungkan cerita dengan cerita lain atau film pernah dibaca atau ditonton. Kimtafsirah (2003:8) mengilustrasikan seperti contoh berikut: setelah membaca karya Charles Dicken Oliver Twist, mahasiswa dapat membandingkannya dengan film Ari Hanggara. Begitu juga dengan Oemarjati (2005) yang menyarankan guru “menanyakan kepada para siswa, apakah ada yang pernah membaca kisah yang serupa, atau menonton film atau sinetron dengan persoalan dasar serupa dengan karya sastra yang sedang  dibahas yaitu Siti Nurbaya.
            Berdasarkan kegiatan-kegiatan dalam connecting tersebut, Penzenstadler (1999) mengingatkan bahwa  dengan segala sesuatu yang digunakan sebagai media pembelajaran, guru dapat menolong siswa menghubungkan apa yang mereka baca dengan dunia mereka (http://www.ade.org/ade/bulletin/n123/123036.htm).
a.      Do you have the same experience with the character? Your brother? Parents? Neighbor? Friend?
b.  Have you ever read book or watched film which is similar to the story read?  Tell the story and connect it.
c.       Can you connect this story to social life? Culture? Religion? How do you connect it?

6. Menafsirkan (interpreting): Siswa menggunakan reaksi, konsepsi, dan koneksi yang mereka bentuk untuk mengartikulasikan tema.
            Kegiatan interpreting melibatkan penentuan makna-makna simbolik, tema, atau peristiwa spesifik dari suatu teks. Dalam membuat penafsiran, biasanya yang didiskusikan adalah apa yang teks “ungkapkan.” Interpretasi melibatkan generalisasi, pernyataan yang dibuat bukan pernyataan yang ada di dalam teks melainkan terimplisit di dalam teks. Pertanyaan berikut memandu mahasiswa menafsirkan isi cerita:
a.      In your point of view, what does the story talk about?
b.      Choose one important and interesting word according to you, then explain it. Why do you choose it?

7. Menilai (judging): Mahasiswa memberikan pendapatnya tentang teks cerita, penulis cerita atau alur cerita. Kegiatan menilai dapat dilakukan oleh mahasiswa dengan menjawab pertanyaan berikut.
a.       Is the story interesting?
b.      Is the story valuable? What values do you get from reading the story?
c.       What do you think of the author? 

Ke tujuh respons pembaca tersebut mengandung unsur-unsur yang dapat menajamkan kognisi (merinci, menerangkan, memahami, dan menafsirkan) dan afeksi (menyertakan, menghubungkan, dan menilai).
            Kegiatan yang dapat mengembangkan aspek psikomotor adalah dengan cara menerapkan satu atau lebih dari empat dimensi simbol visual yang dikemukakan oleh Purves, dkk. (1990) berikut:
1.      Dimensi grafik: sosiogram, peta cerita, grafik, diagram, dan kartun.
2.      Dimensi ilustrasi: poster, gambar, foto, kolasi
3.      Dimensi film/video: naskah cerita, animasi, efek khusus, dan film.
4.      Dimensi seni pertunjukan: tablo, menari, pantomim, dan musik.
Dari ke empat dimensi visual, dimensi terakhir yang sangat tepat digunakan untuk penajaman aspek psikomotor.
Simpulan
            Berdasarkan deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter bangsa (peserta didik) dapat diawali dengan kegiatan membaca karya sastra lokal dan juga modern diikuti dengan mengapresiasi karya tersebut dengan cara merinci isi cerita tentang apa dan bagaimana aspek intrinsik, menyertakan perasaan, imajinasi, dan pikiran mereka pada tokoh cerita, menjelaskan mengapa tokoh cerita berkarakter demikian, memahami apa yang telah dilakukannya dan memberikan persetujuan atau tidak, menafsirkan makna yang terkandung dalam karya sastra tersebut, menghubungkan dan membandingkan isi cerita dengan pengalaman, cerita dan film yang serupa, budaya, kehidupan sosial dan religi, serta menilai pengarang dan latar cerita.            Bila dihubungkan dengan 9 pilar karakter yang harus dikembangkan melalui pembelajaran sastra dengan konsep literature for all, yaitu respons merinci, menjelaskan, memahami, dan menafsirkan dapat membentuk karakter dalam hal penalaran kritis, sedangkan respons menyertakan, menghubungkan, dan menilai dapat memfasilitasi peserta didik dalam membangun karakter yang termasuk dalam pilar berikut: 1) kejujuran, 2) hormat dan sopan santun, 3) kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama, 4) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, 5) keadilan dan kepemimpinan, 6) baik dan rendah hati, 7) cinta tuhan dan alam semesta beserta isinya, 8) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian,  dan 9) toleransi, cinta damai, dan persatuan.
DAFTAR PUSTAKA
forumpurworejo.blogspot.com.  Menggagas Pembentukan Karakter Generasi Muda melalui Karya Sastra. http://bloggerpurworejo.com/2010/03/menggagas-pembentukan-karakter-generasi-muda-melalui-karya-sastra/ diakses 9 mei 2010
Grose, Carolyn. 2010. Storytelling Across the Curriculum: From Margin to Center, from Clinic to Classroom. Diunduh tanggal 12 Maret 2010. http://www.youtube.com/watch?v=AgJXXo97D4c

Harmer, Jeremy. 2007. The Practice of English Language Teaching (4th ed). London: Pearson  Education, Ltd.

Husniah, Rohmy danYudhi Arifani. 2008. Pendidikan Budi Pekerti Melalui Pendekatan Moral dalam Pengajaran Sastra. Makalah disajikan dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX / HISKI, Batu, 12-14 Agustus 2008.

Kotller, Philip. 1990. “The Marketing of Nations”, dalam Sofyan Djalil dan Ratna Megawangi (2006). Peningkatan Mutu dan Pendidikan di Acehmelalui Implementasi Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter, Orasi pada Rapat Senat Terbuka dalam Rangka Dies Natalis Universitas Syahkuala-Banda Aceh, 2 September 2006.

Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter: Solusi Tepat untuk Membangun Bangsa. Indonesia Heritage Foundation, dalam Sofyan Djalil dan Ratna Megawangi (2006). Peningkatan Mutu dan Pendidikan di Acehmelalui Implementasi Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter, Orasi pada Rapat Senat Terbuka dalam Rangka Dies Natalis Universitas Syahkuala-Banda Aceh, 2 September 2006.

Pantaleo,  Sylvia. 2002. Children’s Literature Across Curriculum. Canadian Journal of Education.Vol. 27/2&3, p.211-230.

Porter, Sandra. 2009. Using Literature across Curriculum.  http://edtech.tph.wku.edu/~ppetty/sandraporter.htm. accessed on March 6, 2009.
Richards, Jack C. 2006. Curriculum Development in Language Teaching.New York, NY: Cambridge University Press.
Rudy, Rita Inderawati, Dinar S., dan Zuraidah. 2007. Model Pembelajaran Sastra dalam Pendidikan Bahasa Inggris. Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra. Vol 9/No.1.

Rudy, Rita Inderawati. 2009. Pembelajaran Berbasis Respons Pembaca dan Simbol Visual untuk Mengembangkan Apresiasi Sastra dan Kemampuan Berbahasa Inggris. Forum Kependidikan. Vol. 29/No. 1.

Rudy, Rita Inderawati. 2010. Kontribusi Pembelajaran Apresiasi Sastra Lokal Bagi Industri Kreatif Indonesia. Dalam Mukmin  Suhardi, Bianglala Bahasa dan Sastra. Jakarta: Azhar Publishing.

Talib, Jihad. 2010. Pendidikan Bahasa dan Sastra Lokal dalam Masyarakat Posmodern. STKIP Muhammadiyah Bulukumba.

Van, Truong Thi My. 2009. The Relevance of Literary Analysis to Teaching Literature in EFL Classroom. English Teaching Forum. Vol. 47/No. 3.

Vandergrift, Kay E. 2006. Linking Literature with Learning. http://comminfo.rutgers.edu/professional-development /childlit/books /linkages.html. Diunduh  26 Maret 2006

Wards, Robin A. 2009. Literature-Based Activities for Integrating Mathematics  with Other Content Areas. New York, NY: Pearson Education, Inc.

Wijaya, Putu. 2007. Pengajaran Sastra
http://putuwijaya.wordpress.com/2007/11/03/pengajaran-sastra/ diakses 1 Juli 2008.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda